Sinopsis Buku - PENCEMARAN AIR ; Dasar-Dasar dan Pokok Penanggulangannya


DIIKUT SERTAKAN DALAM PERLOMBAAN PENULISAN SINOPSIS

Terpilih Sebagai Pengunjung Terbaik ke-II YANG DITAJA OLEH PERPUSTAKAAN WILAYAH RIAU “SOEMAN H.S” Pekanbaru-TH.2005
 
PENDAHULUAN

            Disaat kebutuhan hidup yang semakin mendesak memaksa kita untuk bergelut dengan berbagai masalah, maka ketika itu pula kita akan selalu akrab dengan berbagai fenomena, salah satunya adalah kondisi alam dengan fenomena pencemaran yang kini kerap melanda kehidupan kita.
Ketika bicara soal pencemaran maka tak dapat dipungkiri, kita akan berfikir pada tumpukan-tumpukan sampah serta kotoran-kotoran yang ada dibantaran sungai, parit-parit juga ditempat-tempat pembuangan sampah yang mengotori bahkan merusak suasana sekitar. Secara umum, jika diperhatikan lagi, kondisi tersebut erat kaitannya dengan perairan dan ini berarti sebuah kecenderungan telah terjadinya pencemaran air, sehingga stabilitas perairan dan lingkungan sekitarnya jadi terganggu. Permasalahan ini akan sangat ironis lagi ketika perairan tersebut dicemari oleh limbah industri, dimana yang menderita nantinya adalah masyarakat yang hidup didaerah disekitar industri yang melakukan pembuangan limbah tanpa mendaur ulang.
Bisa jadi hal ini yang mendorong penulis buku “Pencemaran Air” ini, untuk mencoba membuka wacana tentang hal-hal yang berkaitan dengan pencemaran air dan bagaimana cara penanggulangannya.
Dimulai dari pengenalan dan pendefinisian terhadap pencemaran air itu sendiri, ia juga mencoba memaparkan beberapa aspek penting, syarat-syarat penentu dan kondisi oksigen serta kriteria standar kualitas air yang baik. Tidak hanya itu, penulis buku ini juga mencoba mendeskripsikan bagaimana sampai terjadinya proses pencemaran badan air terjadi, padahal badan air merupakan objek vital bagi lingkungan sekitarnya dalam memanfaatkan air untuk kehidupan.
Disaat pencemaran itu terjadi, bagaimana proses asimilasi perairan sehingga dapat kembali normal, disini penulis juga mencoba menjelaskan fenomena tersebut. Dan terakhir adalah permasalahan terpenting tentang pokok-pokok penanggulangan pencemaran air itu sendiri. Walaupun penjelasan yang diberikan tidak mendetail, bagaimana proses pengolahan secara praktek dilakukan dengan “Treatment Pengolahan” sebelum limbah tersebut dibuang, namun pokok-pokok penanggulangan tersebut dijelaskan dalam bentuk poin-poin kebijakan yang dirasa cukup sebagai gambaran tentang perlunya perhatian yang serius terhadap limbah industri khususnya, yang selama ini kerap berdampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya.

1. DEFENISI DAN RUANG LINGKUP PENCEMARAN AIR

Air memiliki aliran dan jaringan yang luas pada semua tempat baik yang mengalir maupun yang menetap. Biasanya aliran air yang luas tersebut berhubungan dengan badan air yakni air yang berada pada permukaan tanah seperti halnya waduk, sungai, rawa, saluran air dan lain-lainnya.
Badan air biasanya memiliki standart kualitas tersendiri. Tidak seperti pencemaran yang lain, dalam mendefinisikan pencemaran air relatif lebih sulit karena banyaknya fungsi air yang biasa digunakan seperti air untuk minum, perikanan, rekreasi dan lainnya. Sehingga dalam hal ini kita hanya bisa memberikan pokok-pokok yang perlu diperhatikan dalam memberikan alasan tentang pencemaran air itu sendiri yakni: air dikatakan tercemar jika berada pada suatu kondisi yang membahayakan fungsi dari badan air tersebut, sehingga perlu adanya standart kualitas pada masing-masing fungsi air tersebut.

2. ASPEK, SYARAT PENENTU DAN KONDISI OKSIGEN SERTA KRITERIA STANDAR KUALITAS AIR
           
Jika dilihat dari kegunaan badan-badan air yang ada, maka masing-masing standar kualitas air dapat dilihat dari 4 aspek dan syarat: yakni Syarat Fisika, syarat dan aspek Kimia kemudian syarat dan aspek Biologis serta syarat dan aspek Radiologis diperairan.
            Pertimbangan adanya syarat-syarat tersebut dikarenakan luas dan jauhnya jangakauan aliran badan air ini, sehingga  dalam peredarannya tidak mustahil dapat membahayakan penggunanya sehingga keempat syarat tersebut diperlukan.
            Selain itu dalam pengamatan terhadap penggunaan dan cadangan oksigen dalam air maka diperlukan pula beberapa kriteria lain yakni berupa B.O.D (Biological Oxigen Demand) adalah istilah yang digunakan untuk masalah oksigen dalam air yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme yang ada dalam air. C.O.D (Chemical Oxigen Demand) adalah istilah yang digunakan untuk masalah oksigen dalam air yang berkaitan dengan aktivitas oksigen untuk mengoksidasi bahan-bahan kimia dalam air. Sedangkan D.O adalah sisa oksigen yang terlarut dalam air sebagai cadangan yang setiap saat dapat digunakan. Hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui seberapa besar cadangan dan pemanfaatan oksigen didalam perairan.       
            Ada dua kriteria standar yang dikenal dalam permasalahan pencemaran air ini yakni: standart air buangan dan standar badan air itu sendiri.   Untuk melihat kesemua standar tersebut, digunakanlah konsep Pengembangan Standar Aman Minimum (Consep of Basic Safe Minimum Quality) yang menitik beratkan secara kuantitatif  (jumlah) dan kualitatif (mutu), air yang digunakan sebagai parameter. Seperti kadar oksigen yang terlarut, konsentrasi pestisida dan lain sebagainya.   

3. PROSES PENCEMARAN BADAN AIR

Secara umum ada empat fase proses pencemaran pada badan air :
Fase Degradasi.
Dalam fase ini mulai dan memuncaknya aktivitas pencemaran dimana benda-benda asing mulai mengalami penguraian yang membutuhkan banyak oksigen, proses foto sintesis terhenti karena air yang menjadi kotor dan alga mati, sedangkan lumpur mulai menebal dan muncullah hewan-hewan cacing seperti Tubifex sp.
Fase Dekomposisi.
Fase ini merupkan lanjutan dari fase degradasi dimana oksigen terlarut berkurang dari 40% - 0% walaupun pada akhir fase ini oksegen terlarut akan naik kembali menjadi 40%. Kehidupan pada fase Dekomposisi ini sudah tidak ada lagi, warna air keabu-abuan dan lebih gelap dari fase degradasi, gas beracun mulai muncul karena proses dekomposisi ini akan menghasilkan gas racun seperti Methan, amoniak, nitrogen, sulfid dan gas beracun lainnya. Pada fase inilah pencemaran itu terjadi. Dan fase ini merupakan fase perombakan semua bahan pencemar yang masuk keperairan, dimana jika bahan pencemar yang masuk makin bertambah, maka upaya perairan untuk pulih kembali akan berlangsung sangat lanbat.
Fase Rehabilitasi.
Pada fase ini kadar oksigen mulai meningkat diatas 40%, air sedikit jernih dimana alga mulai tumbuh kembali.
Fase Penjernihan.
Ini merupakan fase terakhir dari rangkaian proses pencemaran badan air, dimana kadar oksigen terlarut mulai meningkat bahkan sampai ketingkat jenuh hal itu terjadi dengan kembalinya proses foto sintesis baik yang ditimbulkan dari tumbuhan maupun pernafasan hewan-hewan air. Situasi badan air kini kembali pulih.



4. PROSES PEROMBAKAN (ASIMILASI) BAHAN PENCEMAR

Dalam fase pencemaran badan air, dapat terlihat bahwa pada fase Dekomposisi dimulainya proses perombakan. Dalam proses perombakan bahan  pencemaran baik organik maupun anorganik akan diproses dengan  menggunakan oksigen yang terlarut dalam air.
Adapun proses perombakan yang terjadi sangat tergantung pada, tersedianya oksigen (aerobik), jenis organisme maupun bahan-bahan organik yang ada dengan bantuan organisme pembusuk aerobik. Sedangkan proses perombakan tanpa menggunakan oksigen (anaerobik) dibutuhkan juga bakteri perombak yakni “Methane producing bacteria”. Antara pembusukan aerobik dan anaerobik sebenarnya tidak dapat dibedakan pentahapannya namun keduanya saling mengisi karena adanya  keberlanjutan reaksi dalam menyelesaikan keseluruhan mata rantai dalam proses perombakan.
Secara umum kedua proses perombakan tersebut akan diawali dengan masuknya bahan pencemar, apabila bahan pencemar yang masuk dalam suatu media dilakukanlah proses pembusukan baik secara alami maupun tidak, maka kedua bentuk proses perombakan ini (aerobik dan anaerobik) akan terjadi walaupun dengan proses pentahapan yang cukup sulit untuk membedakannya, namun yang jelas, semuanya tergantung pada banyaknya oksigen yang tersedia diperairan, jenis organsime serta banyaknya bahan organik yang tersedia diperairan.



5. TREATMEN PENGOLAHAN DAN POKOK-POKOK PENANGGULANGAN PENCEMARAN


Dalam melakukan pengolahan (asimilasi), sebelum pembuangan limbah dilakukan., maka sangat diperlukan evaluasi standar, agar kesehatan masyarakat dilingkungan setempat tidak terganggu dan kehidupan tetap stabil. Hal ini dapat dibuat dalam beberapa perlakukan yakni;
Chemical Treatment
Yakni membuang atau menanam bahan kimia pada tempat yang aman bagi kesehatan dan jauh dari daerah kependudukan.

Self Exhaustion

Yakni pengendalian dan penanggulangan bahan-bahan radioaktif. Dan biasanya sisa dari Self Exhaustion yang berupa cairan buangan akan digunakan lagi dengan Recycling Process.

            Recycling Process
 Yakni bahan buangan yang masih mempunyai nilai ekonomis.
            Sulfuric Acid
Yakni air buangan dari pabrik tekstil atau kulit yang dapat dilakukan netralisasi.
Sedangkan pokok-pokok penanggulangan pencemaran yang dimaksud adalah masalah penanggulangan bahan buangan industri, dimana penekanannya pada beberapa sisi:
1.      Daerah industri hendaknya lebih kearah yang dekat dengan laut.
2.      Mempertahankan kualitas air dibagian hulu sungai
3.      Daerah industri hendaknya dijauhkan dengan sumber-sumber air minum
4.      Industri tidak melakukan pembuangan limbah didaerah yang padat penduduk
5.      Daerah industri hendaknya tidak dibangun dekat dengan pemukiman penduduk.
Adapun konsep lain yang perlu diperhatikan dengan keberadaan industri yang ada sekarang ini adalah konsep “Penataan Kota” yang tepat, sehingga pabrik-pabrik yang beroperasi menghasilkan limbah dapat direlokasi kembali pada tempat khusus hingga tersentral, terfokus dan tertata dengan rapi guna mengantisipasi pembuangan limbah yang tidak terkontrol.
KESIMPULAN

Pencemaran air memiliki definisi yang luas karena ruang lingkupnya yang beragam. Hanya saja hal mendasar yang dapat dijelaskan tentang adanya pencemaran air yaitu: air dikatakan tercemar jika berada pada suatu kondisi yang membahayakan aspek standar kualitas air, syarat penentu, serta kondisi oksigen dalam perairan tersebut.
Pencemaran perairan secara umum terjadi dalam empat fase yakni fase degradasi, fase dekomposisi, fase rehabilitasi dan fase penjernihan. Dimana fase dekomposisi merupakan kondisi optimal terjadinya pencemaran air.
Setelah terjadinya fase pencemaran, kemudian akan dilanjutkan lagi dengan proses perombakan (asimilasi) bahan-bahan penyebab pencemaran. Proses perombakan ini secara umum terjadi dalam dua keadaan yakni proses asimilasi dengan batuan bakteri aerobik ketika kondisi oksigen yang cukup dan proses anaerobik ketika kondisi oksigen yang keberadaannya kurang memungkinkan, dimana kedua proses ini saling mengisi karena adanya  keberlanjutan reaksi dalam menyelesaikan keseluruhan mata rantai dalam proses perombakan.
Dari kesemua hal yang menjadi permasalahan dalam pencemaran air adalah pokok-pokok penanggulangan paling mendasar yaitu perlu adanya semacam kebijakan yang perlu diperhatikan dalam melakukan proses pengolahan limbah, seperti  treatmen pengolahan limbah yang tepat, penataan daerah industri yang diharapkan jauh dari sumber air minum serta tidak melakukan pembuangan limbah didaerah yang padat pemukiman penduduk.



 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadwal Kapal Roro dari Tanjung Balai Karimun Tujuan ke Beberapa Daerah

Jadwal Kapal Roro dan harga tiket dari Dabo Singkep Tujuan ke Batam